Mengenal Kerajinan Gerabah Khas Cirebon

Kerajinan Gerabah CirebonIndonesia memiliki kerajinan tangan yang sungguh beragam dan memiliki nilai estetika yang tinggi. Cirebon, selain terkenal dengan kerajinan tangan berupa batik dan rotan, ternyata di daerah ini memiliki sentra kerajinan gerabah khas Cirebon yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Kerajinan gerabah khas Cirebon ini juga memiliki nilai estetika yang tinggi yang sudah diakui nusantara dan dunia.

Salah satu desa di kabupaten Cirebon, yaitu Sitiwinangun, merupakan daerah penghasil kerjinan tangan ini. Sitiwinangun adalah nama sebuah desa di kecamatan Klangenan yang terletak 15 km ke arah barat kota Cirebon. Sitiwinangun berasal dari bahasa Jawa yang berarti “tanah yang dibentuk”. Siti = tanah, wangun = bentuk. Tradisi membuat kerajinan gerabah sudah dilakukan oleh nenek moyang penduduk Sitiwinangun yang berbudaya agraris sejak zaman dahulu.

Pertemuan beragamnya budaya di Cirebon meliputi Sunda, Jawa, Arab, Cina, Islam serta Hindu membuat gerabah Cirebon memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dari daerah yang lainnya. Menurut penuturan  cerita masyarakat di sana , asal mula kerajinan tangan ini adalah dari Pangeran Panjunan. Ketika itu sang pangeran memiliki keahlian dalam membuat karya seni berupa gerabah. Bahkan,  karya-karyanya banyak disukai orang. Hasil karyanya terlihat sangat halus dan indah, seakan dapat membius orang yang melihatnya. Konon katanya, bahan dasar gerabah berupa tanah liat yang berasal dari Sitiwinangun sudah memiliki nilai tinggi tanpa perlu harus diolah

Kerajinan Gerabah Sitiwinangun Cirebon

Gerabah merupakan suatu kerajinan tangan yang berasal dari tanah liat yang juga bagian dari keramik. Namun banyak masyarakat beranggapan bahwa gerabah bukanlah bagian dari keramik karena teksyr permukaannya yang tidak mengkilap seperti halnya vas bunga dan guci. Akan tetapi keduanya memiliki bahan dasar yang sama yaitu tanah liat dan sama-sama merupakan bahan pecah belah hanya yang membedakan permukaan halus dan mengkilap saja, namun dalam esensinya benda-benda ini sama.

 

Teknik pembuatan pembentukan keramik dilakukan dengan teknik pilin yaitu dengan membuat pilinan tanah yang panjang, kemudian dibentuk dengan dilingkarkan dan ditumpuk, sehingga membentuk seperti tabung. Kemudian baru dibentuk lagi dengan tangan sesuai dengan keinginan. Kemudian diketemukan teknik putar yang yang pemakaiannya dibantu oleh kaki atau tangan

Untuk membuat gerabah berupa gentong yang besar dilakukan dengan teknik pukul, yaitu memakai alat pemukul dari kayu yang disebut paddle dan landasannya disebut anvil. Biasanya untuk dasar gentong dibuat dengan teknik putar lambat. Untuk memperlebar bentuk, di bagian atas ditambah gumpalan tanah, dari luar di pukul dengan kayu, dari dalam ditahan oleh batu. Dengan demikian tanah lebih dipadatkan dan lebih kuat. Sama seperti pada pembuatan pottery bowl yang memerlukan teknik yang sama.

Setelah gentong atau pottery bowl terbentuk , untuk lebih indah, ditambah motif hias. Dari zaman dahulu telah dikenal gentong dengan hiasan yang dibuat dari torehan, cungkilan pukulan, dan lain-lain. Hasilnya berbentuk motif geometris, anyaman, tumpal, pilin, dan lain-lain. Ada kalanya dibuat motif baru berupa bunga ceplok yang ditempelkan, biasanya mengelilingi bagian luar gentong. Sejalan dengan perkembangan motif batik, dikembangkan pula motif kangkungan, awan berarak, matahari (berupa titik dengan garis memancar di sekelilingnya).

 

Recent search terms:

6
Shares
Share on Pinterest

Related Posts

Leave a reply


*